Showing posts with label Malaria. Show all posts
Showing posts with label Malaria. Show all posts

Friday, July 22, 2022

Cegah Malaria, Dinkes Waropen periksa peserta Sidang Sinode Ke-18 GKI Di Tanah Papua

Sebagai daerah endemis malaria, Pemerintah Kabupaten Waropen, Papua, meningkatkan upaya pencegahan malaria terhadap warganya, terutama peserta Sidang Sinode ke-18 GKI Di Tanah Papua.

Melalui kelompok-kelompok kesehatan, tim pemeriksa mendatangi setiap pos atau tempat yang menjadi pusat tempat tinggal para peserta sidang di seluruh Waropen.

Penanggung jawab malaria dari Puskesmas Khemon Jaya, analis ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medis), Iin Sarli mengatakan upaya pencegahan sudah dilakukan sebelum sidang berlangsung melalui penyemprotan IRS, fogging, hingga RDT Screening malaria sebelum kepulangan peserta sidang.

“Penyemprotan IRS dan Fogging sudah kami lakukan sebelum sidang dimulai atau sebelum peserta datang ke Waropen. Dan, selama kegiatan berlangsung atau sebelum peserta pulang, kami datangi pos-pos tempat tinggal peserta sidang dan periksa. Dengan alat periksa RDT Screening malaria ini, hasilnya bisa langsung terlihat dalam 20 menit,” kata Iin Sarli usai melakukan pemeriksaan di Kantor Masyarakat Adat Waropen, yang menjadi salah satu tempat tinggal peserta sidang, Sabtu (23/7/2022).

Hasil pemeriksaan dua hari sebelumnya di sekitar Batupapan dan sekitarnya menunjukkan negatif. Pemeriksaan masih akan terus dilakukan hingga Senin, jelang kepulangan para peserta sidang.

“Tujuan ini semata-mata berharap supaya tidak ada peserta dari luar yang kena malaria. Kalau pun ada, maka kami bisa bantu obati,” ujar Iin.

Sidang Sinode ke-18 GKI Di Tanah Papua telah berlangsung sejak Senin (18/7) dan akan berakhir pada Minggu (24/7/2022) esok.

Peserta sidang sinode berdatangan dari hampir seluruh wilayah di Tanah Papua untuk ikut menyaksikan langsung agenda lima tahunan Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua ini.

Kasus malaria di Kota Jayapura naik

Kasus malaria di Kota Jayapura, Provinsi Papua, mengalami kenaikan cukup tinggi. Dinas Kesehatan Kota Jayapura mencatat di semester 1 sebanyak 15 ribu kasus.

“Tahun lalu ada 30 ribu kasus. Jadi, peningkatannya luar biasa sangat signifikan,” Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari di Kantor Wali Kota Jayapura, Sabtu (23/7/2022).

Data Dinas Kesehatan Kota Jayapura, pada 2021 prevalensi atau tingkat penyebaran kasus malaria 250 per 1.000 penduduk, dan pada 2022 semester I berada di angka 400 per 1.000 penduduk.

“Wilayah Distrik Muara Tami yang kasusnya cukup tinggi, karena plasmodiumnya masih cukup tinggi. Artinya, banyak orang yang terinfeksi malaria belum terdeteksi dan terus menularkan kepada orang lain,” ujar Antari.

Dijelaskannya, malaria adalah penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Anopheles betina, yang dapat menularkan parasit Plasmodium.

“Proteksi terus kami lakukan, seperti vogging, pembagian kelambu, penanaman obat pencegah nyamuk (lavender dan serah),” ujar Antari.

Antari berharap kerja sama dan kesadaran dari semua pihak, terutama orang yang sudah sembuh dari malaria agar melakukan pencegahan, seperti memakai kelambu agar mencegah untuk tidak kembali sakit malaria.

“Semua orang berhak bertanggung jawab untuk menjaga kesehatannya sehingga tidak mudah sakit dan tidak menularkan malaria kepada orang lain, sehingga aktivitas tidak terhambat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Antari.

Tuesday, May 24, 2022

Sambut Kongres Masyarakat Adat Nusantara, Dinkes Jayapura Siapkan Kelambu dan Posko Kesehatan

 


Jayapura merupakan salah satu daerah endemis malaria. Maka dari itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura akan menyiapkan kelambu dirumah-rumah warga yang dijadikan tempat tinggal peserta Kongres Masyarakat Adat Nusantara atau KMAN. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Khairul Lie selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura pada Senin (23/05).

Bukan hanya kelambu saja, Dinkes juga akan menyiapkan beberapa posko-posko kesehatan di masing-masing kampong, serta dilengkapi dengan peralatan obat-obatan dan tenaga medisnya.

“Rumah yang ada ventilasinya akan disediakan juga obat semprot nyamuk, agar tidak terjadi penularan malaria atau peserta pulang dari sini dengan membawa penyakit malaria ke kampung halamannya,” ujar Khairul.

Menurutnya, pihaknya sangat siap dan mendukung seluruh kegiatan KMAN di Kabupaten Jayapura, melalui pelayanan kesehatan yang optimal. “Keterbukaan dan kejujuran masyarakat juga dibutuhkan di sini, sehingga nanti dalam proses pelaksanaan kegiatan, tidak ada salah persepsi yang mengganggu hubungan komunikasi antara peserta, pemilik rumah, dan panitia,” jelasnya.

Ketua Badan Pengurus Harian AMAN Jayapura, Benhur Wally mengatakan pihaknya sedang turun lapangan untuk mendata dan memastikan semua rumah warga, yang akan ditinggali oleh peserta kongres nanti.

“Secara acak setiap rumah dipastikan, dari pemilik rumah, jumlah anggota keluarga, kualitas bangunan rumahnya, termasuk sanitasi air bersih, dan lampu penerangan. Jika ada yang perlu ditambahkan oleh paniatia, maka panitia melalui tim teknis langsung mengerjakan bagian mereka,” pungkasnya.

Ketika di Roma (2/2)

Jalan Romawi kuno melintasi bentang alam, dari Skotlandia hingga Mesopotamia, Rumania hingga Sahara. Dan jalan Romawi paling awal dibangun u...